Saturday, 11 July 2009

Masuk Sekolah Susah

Walau libur, aktivitas masih padat merayap.

...

Sebelumnya sempat hilang niat untuk menulis, tapi setelah jalan-jalan lihat halaman di dunia maya tercinta maka timbullah niat itu lagi. Kadang malu juga, bercerita di tempat yang luas ini, mengetik kata per kata yang dapat dibaca oleh siapa saja yang kebetulan tersesat di weblog ini. Malu, karena sesungguhnya saya adalah orang yang merasa bahwa urusan pribadi adalah hal yang sangat privat, juga hidup saya bukanlah suatu hal yang penting untuk di tuliskan.
Namun, you know lah, orang bisa berubah setiap saat. Ada kalanya saya merasa perlu untuk sekadar merangkai kata di sini, bukan untuk apa-apa, tetapi lebih kepada agar saya tetap ingat bahwa kejadian atau setidaknya menjadi semacam penanda bahwa pengalaman ini pernah dilewati dan apa komentar otak.


...


Beberapa hari kemarin, hampir di pertengahan bulan Juli. Harusnya saya ditraktir ulang tahun seorang kawan di bulan ini, tapi itu dulu ketika masa sekolah dan pergaulan serta kegiatan belum penuh seperti sekarang. *Haa, sok sibuk padahal*. Tapi, it's another story.

Waktu ternyata jalannya cepat ya. Hari ke bulan, terus berganti tahun, dan masa itu dilewati tanpa sepenuhnya sadar bahwa sudah tidak mungkin kembali ke hari kemarin dan bahwa seharusnya sadar (lagi) saya punya yang saya miliki. *kadang, kamu tidak pernah tahu apa yang kamu miliki sampai semuanya hilang. Well, baru saja adik menamatkan sekolah menengahnya dan tentunya akan dilajutkan ke SMA. Maka, mendaftarlah dia ke sekolah, yang saya sebut sebagai sebuah kebanggaan bila memang benar diterima, berlabel negeri dan cukup tua untuk beroperasi *ciee operasi* di sini. Skip. Tibalah hari kelulusan, dan ternyata hasilnya mengecewakan, dan gagal lah mimpi kami *iya mimpi kami* untuk diterima ke SMA itu. Sebenarnya yaaah sebuah tes memang di perlukan untuk menjajal sampai mana batas kemampuan si calon siswa untuk dapat berebut kursi yang disediakan sekolah. Kemampuan di sini yang dimaksud adalah kemampuan akademik, murni akademik *walau ada seagian sekolah yang mewajibkan sumbangan berkedok wawancara*, dan dengan begitu, saya pikir persaingan akan berjalan dengan sangat fair tanpa adanya campur tangan tak terlihat di sana.

Tapi ternyata terlalu naif rupanya bila menganggap kita tinggal di sebuah negara, yang setelah reformasi menjungkalkan sebuah orde, secara otomatis mencabut sampai ke akar masalah moral warisan VOC dan kongkalikong a la lainnya. Iya, terlalu naif. Saya lalu teringat kata konglomerat negeri ini yang berkata bahwa berusahalah sebaik mungkin, tapiii jangan terlalu berharap banyak karena di negeri ini semua hal dapat saja terjadi. Benarlah. Saya tahu bahwa kami baru saja dikalahkan oleh kekuatan tak terlihat yang dalam hal ini di wakili oleh uang. Adik gagal masuk ke sekolah menengah itu, berikut pula dengan puluhan eksponen akselerasi yang dulu sempat sekelas dengannya. Memang, betapa kerasnya usaha begitu sulit diterima dengan akal waras bila mudah saja tak berarti apa2 di lembaran2uang. Oleh uang, segera saja dapat merubah orang menjadi rupa yang lebih berbahaya, bahkan dari jutaan anasir jahat manapun. Dari cerita adik saya, kawan-kawan nya di sekolah yang diterima adalah siswa titipan, yang sudah terlebih dahulu menyetorkan beberapa rupiah ke kantong pihak yang berkepentingan, untuk apa lagi coba selain pelicin sampai sudah dipastikan jatah kursi sudah di dalam genggaman. Dan sialnya, ini bukan fitnah, terlalu murah untuk fitnah seperti ini . Dan tidak pula mencari bahan untuk disalahkan. Namun, apalah artinya sebuah kebohongan kalau yang berbisik itu adalah sang pelaku utama?.


...


Tak terasa, 6 tahun lewat. Kalau diurut2, tahun itulah satu dari banyak mimpi saya, yaitu untuk menjadi alumni SMA tersebut nyata. Haha, memang, masuk ke SMA dan menuntaskannya, perlu 3 tahun lagi, tapi dengan menjadi siswa SMA itu, peluang saya menjadi alumni semakin besar bukan?. *haha*. Aneh memang. Menjadi alumni, bukan siswa, adalah hal lain yang menarik. Akan saya bawa kemana2, bahwa bahwa saya adalah lulusan sekolah negeri itu dan bangga karenanya. Bukan apa2, sebab bagi saya alumni adalah sebuah jaringan yang baik menciptakan hubungan relasi. Bahwa keterikatan akan sebuah kesamaan akan mengikat jauh dalam alam bawah sadar hingga merasa saling senasib satu sama lain, bahkan sepenanggungan bila perlu. Dan perlu diingat, saya tercatat *kalau tidak salah* adalah generasi ke 51 sejak sekolah itu berdiri, dan bisa dibayangkan berapa banyaknya alumni yang ada. Dan tidak sedikit yang selepas dari sekolah menengah, karir nya melesat dan meroket jauuuuuuuuhhhh sampai dianggap "besar" bagi negeri ini. *Sungguh membanggakan, huaaa*.

OK. Terlalu lama kata2 saya menyimpang, dan itu berbahaya. Satu hal yang ingin ditegaskan bahwa waktu itu, 6 tahun yang lalu, adalah sebuah kebanggaan bahwa saya diterima di sekolah mimpi itu, lewat pengorbanan. Iye, saya berkorban banyak. Saya harus berkorban kehilangan kawan yang memilih mencoba peruntungan di sekolah lain ; harus banyak belajar ; takut akan gagal, karena hanya ada satu kali kesempatan dan itu hanya satu kali saja, kawan2.
Resmi menjadi siswa, dan seperti yang dikatakan berulang, bahwa saya bangga. Bangga bahwa tes berlangsung adil tanpa pretensi, jebakan, tekanan dari sudut mata angin manapun juga. Murni kemampuan akademik dan peruntungan yang ambil kemudi lalu mengantarkan ke garis finish dengan selamat. Sampai di sini, saya makin percaya bahwa keajaiban dan usaha adalah sebuah team yang harus dipelihara kekompakannya. Satu langkah bersama.




Dan, idealisme itu runtuh di hari ini.



...


Hari itu, terik. Tak ada yang tampak menarik dikerjakan selain mengkhayalkan keadaan. Benarlah, bahwa hari itu saya makin percaya, bahwa di sini, kota ini, masih tergenang ribuan salah yang harus di urai. Birokrasi manual. Laten miskin inovasi. Publik yang lambat bereaksi. Reformasi sebelah arah yang gagal memberangus jiwa2 kolot dengan mental penjilat, yang mendewakan ajaran suap menyuap, yang terbuai rupiah, sampai menggapai genggaman dalam wacana kurusetra yang mereka set sendiri dialognya.



hingga berakhir pada keinginan,

kapan kita bakar mental kerdil mereka kawan?.
*Semoga pekerjaan tidak menghanyutkan kepada demam kapitalis yang berujung keacuhan untuk ikut bergerak. Aminnnn*


....

aish, saya harus akui ini, hantaman uang lebih sakit dari ribuan kali hujaman godam.


....



Thursday, 25 June 2009

Umum

Beberapa hari kemarin, Kota ini milad ke 1326. Tua. Yang berarti sudah lama sekali kota ini ada, hingga menginjak angka ribuan, ratusan tahun lamanya dan seharusnya sudah relevan dengan kemajuan, kesejahteraan, dan serta jargon lain yang jamak berdengung. (ngung!)

****

Sejak 2004, kota ini yaa maju, pesat malah. Bagi yang sudah 10 tahun tidak pernah balik kampung, pulanglah, dan silahkan terkagum-kagum. hhha. Jalanan rapi, bersih, apalagi kalau malam, bertaburrrr cahaya lampu. Ashooi. Kriminalitas jauuuh berkurang. Dulu, sewaktu SD, masih ingat saya di TVRI daerah yang menayangkan iklan masyarakat dengan isi himbauan untuk meninggalkan kebiasaan PISAU DI PINGGANG. Sadis!.

Pisau di pinggang means pisau yang di tenteng kemana-mana, dan diselipkan di pinggang. Haha, seseram namanya, yang bisa jadi menggambarkan budaya kekerasan yang meraja saat itu. Gak tau. Waktu itu masih teramat kecil untuk mengerti kenapa budaya itu bisa jalan. Kenapa juga bisa menjadi kebiasaan. Padahal, menenteng pisau kemana-mana juga gak bikin ganteng lho. hmm, Gak ngerti.

.

Sekarang, sudah jauh tenteram. Tapi, tentu untuk spot-spot tertentu. Belum aman seratus persen lah. Lagi pula, untuk menjadi kota yang nyaman, masih butuh banyak perjuangan dan terobosan lagi deeeeeee. OK deeeeee.

.


p.s. = Sayang, gambar logo sriwijaya expo untuk tahun ini susah didapatkan, Padahal, hmmm, keren habis-habisan ;p . Kira-kira, siapa ya yang disain??

Wednesday, 24 June 2009

Jeda

Liburan datang, kamerad. Dan liburan itu singgahnya lama sekali, hampir 3 bulan. Harusnya dalam bulan-bulan ini, mahasiswa ekonomi sibuk belajar di semester pendek, mengejar esensi ata pertanyaan yang hadir dalam tiap-tiap ruang kelas. Namun, rencana tinggalah rencana, semester pendek gagal dilaksanakan akibat satu dan lain hal, atau mungkin anasir jahat yang tumbuh kembang di lingkungan kami ?. Sengkarut, masalahnya saya hanya murni sebagai mahasiswa tanpa kekuasaan yang dipegang di tangan. Maka benarlah liburan ini, saatnya belajar hal lain.

****

...dan untuk mengusir rasa bosan, at least, saya memilih untuk meneruskan mengisi hari-hari dengan menulis sepatah-dua patah ide di dalam blog ini. Dan, iya, blog ini hidup lagiiii... Setelah pada tulisan terakhir bertemakan pemilu yang sayangnya hingga kini masih saja tengah giat-giat nya seliweran menjadi topik bahasan dimana-mana. Bayangkan saudara-saudara, (dari pertengahan tahun lalu mungkin??), bahasan tentang Pemilu seakan tak berujung. Mulai dari televisi, kanal berita, corong radio, opini para tua, muda, segala lintas asal usul lempar opini dengan tema yang seragam. Negeri ini perlahan belajar bagaimana demokrasi yang sejatinya, yang seutuhnya, yang mendengarkan suara rakyat selaiknya suara Tuhan. Belajar bahwa suara dan pikiran yang berbeda tak seharusnya dihantam dengan palu dan lemparan botol, batu, dan kayu, dan keseragaman sudah basi dikalahkan kenyataan bahwa negeri ini indah bila kombinasi keberagaman dan pluralisme akan menemukan bentuk terbaiknya. aha!


****

Ok. Boleh saya bicarakan tentang kota yang di belah oleh Sungai Musi menjadi dua bagian, Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Namanya Palembang, ibukota Sumatera Selatan. Disini terdapat dua kerajaan besar yang penah besar dan masyhur di zamannya ( jreeengg..). Sebutlah Palembang Darussalam dan Sriwijaya. Tak perlulah diceritakan kisah dua hal tersebut, terlalu panjang dan kompetensi saya untuk bercerita masih dalam tanda tanya yang besar.
Di kota inilah, di atas bumi Sriwijaya, saya makan dan hidup, bersosialisasi, dan banyak hal lain.
Singkat kata, perangai dan kebiasaan penduduk di sini yang bisa jadi akan menginspirasi tulisan pada blog ini sterusnya. Menginspirasi, fantastis, bombastis, HAHAHHAHA. Masyarakatnya, adat mereka, kotanya, adipura nya. Banyak, dan semuanya atas patron satu hal : pendapat pribadi. YEAH!. Untuk itulah guna blog ini, bebas saya tuangkan pikiran, ide, masukan, cacian, makian, do'a, semuanya menurut saaaya tentunyaaaaaa.

originally from : seribumenara.com

****

Palembang Panas La


Tuesday, 25 November 2008

Demokrasi Kertas Suara

Jujur. Ada semacam ragu saat saya sadar bahwa kita semakin dekat dengan pemilihan. Pemilihan calon pemimpin kita, yang proses perwakilan nya tetap bargaya lama, lewat kertas suara. Ya, demokrasi kertas suara begitulah!. Ragu apa, mungkin ragu yang dikarenakan oleh ketidaktahuan siapa sejatinya mereka, yang akan menjadi penyambung suara kita di tempat perwakilan yang terhormat. Secara personal, mungkin akan sulit untuk mengenal tiap-tiap kandidat, siapa mereka, darimana asalnya, siapa keluarganya, atau mungkin lewat visi misi juga idealisme bahkan nama siapa orang nya!. kacau!. Padahal seharusnya, merekalah yang berinisiatif mengenalkan diri, mengenalkan program program yang sudah disusun di otak mereka yang diyakini dapat mengguncang dunia. Gitulo. Seharusnya mereka lebih kreatif dalam menyampaikan pesan, lha mereka kan inginnya dipilih, maka bersikaplah lebih menjual, lebih kreatif dalam menjual pikiran. Kalau terus terusan begini, yang mereka tampilkan hanyalah sebuah figur sebuah foto belaka, tanpa kita kenal siapa mereka, apa ideologinya, apa yang akan mereka perjuangkan, apakah mereka pernah turun ke bawah, benar benar memahami persoalan orang kecil yang akan mereka bawa ke tempat terhormat disana.

***

iya, pemilu yang semakin dekat seperti berarti menjamurnya pamflet-berwajah-senyum-entah-siapa. Sialnya, pamflet2 itu seperti sudah janjian , dengan isi yang seragam, sudah bisa dipastikan, isinya cuma disuruh coblos terus senyum si orang yang ada di pamflet, sudah. sangat tidak berbobot.
Sudah itu, berapa sih jumlah partai yang ada sekarang?30?40?kalau masing-masing partai menyumbang caleg sebanyak 5 orang untuk satu dapil, berapa banyak caleg yang muncul?apakah sudah ada jaminan, kalau caleg yang naik memang benar2 telah teruji kualitasnya, bukan sekadar memenuhi kuota?


***

ah. sepertinya benar bila sekarang, negara ini, di pertiwi ini sedang dilanda demam, demam demokrasi. Euforia demokrasi. Dimana yang didukung banyak suara, dialah pemenang, dialah yang berhak memimpin semuanya. Semuanya dengan tangannya.






Wednesday, 8 October 2008

Kontradixi

hoaa

disini, tepat dibawah telapak kaki saya, sejajar dengan lantai rumah.
Rasanya dingin, bukan menentramkan. Tidak pula menantang saya untuk mengumpat dunia.

kontradiksi.


atau paranoia?
takut yang sangat pada hal yang belum tentu terjadi.


...
sekarang, dunia kita di tren ketidakpastian
membingungkan...


saluran tv kita memberi kabar kelam
dunia terancam resesi
globalisasi cepat menular hingga negara seberang lautan
saya curiga, mungkin sekarang saatnya tepat

.....
K i t a HARUS w a s p a d a
kepada besok yang berganti rupa
menyuruh senyum.
namun menanti perang.

suatu hari di depan, kita akan kelaparan
sekaranglah saatnya tepat
kapitalis bukan jawaban

.....


wohooo
mungkin terlalu paranoia,




Friday, 5 September 2008

Sumbang Untuk Birokrat Tua!

siang mulai datang,,,

kami tiba di sebuah kantor beraksen rumah dengan plang nama yang tertulis jelas KANTOR KELURAHAN LOROK PAKJO PALEMBANG untuk kedua kalinya di hari yang sama. di kantor itu, untuk beberapa kalinya juga, saya berurusan dengan birokrat setempat untuk suatu perihal.
surat2 sudah lengkap, plus pelicin yang sudah siap di amplop putih lusuh yang sebelumnya saya ragu berikan, namun atas nama budaya terima-kasih, dikasihkan juga.


kini saya tiba di kursi
berdepanan dengan meja sang birokrat pemilik kekuasaan setempat.
saya butuh satu tanda tangan beliau untuk terus kekantor berikut kemudian bank baru bisa mengakui surat tersebut. terus sang birokrat membaca isi surat, sepertinya ia paham, atau mungkin memang rutinitas beliau serta rekan2 yang setiap hari memang tidak memiliki tugas berarti. ( di beberapa bulan silam, saya banyak mendapati para pegawai sibuk, menonton infotainment). waktu sekian menit yang berlalu, diakhiri dengan tanpa tedeng aling-aling, tanpa sungkan serta rasa malu dengan kadar normal, sang birokrat mulai pada kegiatan yang menyenangkannya, membuka amplop putih lusuh tadi.
aha, hanya 5000 rupiah yang saya siapkan ternyata. saya kira ini lebih dari cukup untuk mengurus satu buah tanda tangan saja. namun, birokrat bercincin giok putih di tangan kiri malah meminta lebih pada saya, seorang muda. tanpa ragu ia memberi harga 40.000 rupiah ( empat puluh ribu rupiah!bayangkan) untuk satu tanda tangan yang akan ia berikan pada surat itu. sakit!. birokrat itu sakit saya kira. saya benar kalau dia tidak punya perasaan, tanpa iba memeras saya. oke, saya tahu surat itu demikian berharga pada saya, dan butuh sekali tanda tangan itu, namun ia lupa, ia dibayar negara untuk tugas2 nya itu, untuk tiap rutinitas yang ia lakukan, bukan malah memeras seorang anak.
di akhir pembicaraan ( uhm, sebenarnya tidak adapembicaraan yang bisa dibilang "pembicaraan", saya syok lalu tidak berbicara apa pun), ia bilang
"ini, bilang pada orangtua kamu dirumah, untuk tanda tangan ini uang nya 40.000 rupiah ya, bilang sama orangtuanya."
apakah ini yang dibilang reformasi menyeluruh.
kalau begini, saya teringat wacana yang menguat akhir2 ini, dukung orang muda.
iya, sudah seharusnya orang muda didukung, karena sesuai dengan zamannya. kita butuh orang yang ingin maju, tanpa terjebak sistem lama. bukan orang2 tua, yang lambat, konservatif, lalu mulai menjerumuskan orang muda tanpa rasa bersalah, namun ingin dihormati.
kyaaaaaaaaaaaa!!




Sunday, 17 August 2008

Kata beliau...



'ketika aku seusiamu kujelajahi dunia pengetahuan bukan dengan pesona tapi bertanya. Saat aku seusiamu kubikin sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Aku ajari anak-anak tiga pelajaran penting, ketrampilan agar mereka menjadi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Sayang orang-orang kolonial itu menangkapku jauh lebih cepat dari yang kuduga. Apa yang kaukerjakan sekarang anak muda?
-Tan Malaka-


 

© free template by Blogspot tutorial